Virus 'coxsackie' dan 'Enterovirus' penyebab penyakit tangan, kaki dan mulut (PTKM) atau yang lebih dikenal dengan istilah "virus Singapura" perlu diwaspadai pada setiap musim pancaroba.
"Seperti virus lainnya, PTKM dapat menyerang tubuh manusia yang tidak dalam kondisi fit," kata Ketua Komite Medik RSUP Dr Sardjito, Prof Dr dr Sutaryo di Yogyakarta, Minggu (19/3).
Pada cuaca yang masih tidak menguntungkan selama masa pancaroba ini, barbagai penyakit dengan mudah dapat menyerang manusia karena kondisi tubuh yang labil.
"PTKM menyerang balita dan kebanyakan bayi berusia 13-24 bulan, meskipun tidak menutup kemungkinan akan menyerang pula orang dewasa," ujarnya.
Menurut dia, virus penyebab PTKM dapat menempel di tangan atau pada makanan dan minuman yang masuk ke dalam tubuh, kemudian virus itu masuk ke tenggorokan hingga ke usus dan menyerang organ lain.
"Secara fisik virus tersebut dapat dilihat sudah menyebar ke organ tangan, mulut dan kaki melalui gejala munculnya sariawan bersamaan dengan bintik-bintik merah yang menyebar di telapak tangan dan kaki. Kondisi ini akan berlangsung sekitar tujuh hari," katanya.
Penderita PTKM ringan tidak memerlukan perawatan khusus. Pasien hanya perlu mengonsumsi obat antibiotik saja. Karena itu masyarakat tidak perlu mengkhawatirkannya secara berlebihan meski tetap perlu diwaspadai. "Penyakit ini kecil kemungkinannya menyebabkan kematian," katanya.
Menurut Sutaryo, dibandingkan dengan penyakit cacar yang memiliki ciri fisik hampir sama, virus ini tergolong lebih ringan, dan penyebarannya relatif lebih sulit karena harus masuk melalui mulut dan tidak dapat bertahan di udara.
Penyakit ini bermula di Amerika Serikat tahun 1957 kemudian menyebar hingga daratan Eropa dan Asia seperti Jepang, Hong Kong, Cina dan Singapura. Di Singapura penanganan dilakukan dengan gencar sehingga ketika virus masuk pertama kali di Indonesia tepatnya di Solo, Jawa Tengah, masyarakat terlanjur mengenalnya sebagai "virus Singapura".
"Di Yogyakarta, virus ini ditemukan pertama kali pada Mei 2001 di Kecamatan Depok, Sleman dan sepanjang tahun itu tercatat 42 penderita. Setelah itu, setiap tahun penyakit ini dipastikan menyerang meskipun tidak pada taraf mengkhawatirkan," katanya.
Pernah terjadi di Hong Kong, lima dari sekitar lima ribu pasien PTKM memasuki status 'grade' V atau stadium paling membahayakan dengan ditandai pendarahan pada paru-paru yang bisa menyebabkan meninggal dunia. "Tetapi hingga tahun lalu, hal seperti itu tidak terjadi di Indonesia," tambahnya. "Untuk tindakan pencegahan diharapkan masyarakat menjaga kebersihan lingkungan dan mengonsumsi makanan bergizi," katanya. antara/abi
Sumber : http://www.republika.co.id/online_detail.asp?id=240198&kat_id=23
"Seperti virus lainnya, PTKM dapat menyerang tubuh manusia yang tidak dalam kondisi fit," kata Ketua Komite Medik RSUP Dr Sardjito, Prof Dr dr Sutaryo di Yogyakarta, Minggu (19/3).
Pada cuaca yang masih tidak menguntungkan selama masa pancaroba ini, barbagai penyakit dengan mudah dapat menyerang manusia karena kondisi tubuh yang labil.
"PTKM menyerang balita dan kebanyakan bayi berusia 13-24 bulan, meskipun tidak menutup kemungkinan akan menyerang pula orang dewasa," ujarnya.
Menurut dia, virus penyebab PTKM dapat menempel di tangan atau pada makanan dan minuman yang masuk ke dalam tubuh, kemudian virus itu masuk ke tenggorokan hingga ke usus dan menyerang organ lain.
"Secara fisik virus tersebut dapat dilihat sudah menyebar ke organ tangan, mulut dan kaki melalui gejala munculnya sariawan bersamaan dengan bintik-bintik merah yang menyebar di telapak tangan dan kaki. Kondisi ini akan berlangsung sekitar tujuh hari," katanya.
Penderita PTKM ringan tidak memerlukan perawatan khusus. Pasien hanya perlu mengonsumsi obat antibiotik saja. Karena itu masyarakat tidak perlu mengkhawatirkannya secara berlebihan meski tetap perlu diwaspadai. "Penyakit ini kecil kemungkinannya menyebabkan kematian," katanya.
Menurut Sutaryo, dibandingkan dengan penyakit cacar yang memiliki ciri fisik hampir sama, virus ini tergolong lebih ringan, dan penyebarannya relatif lebih sulit karena harus masuk melalui mulut dan tidak dapat bertahan di udara.
Penyakit ini bermula di Amerika Serikat tahun 1957 kemudian menyebar hingga daratan Eropa dan Asia seperti Jepang, Hong Kong, Cina dan Singapura. Di Singapura penanganan dilakukan dengan gencar sehingga ketika virus masuk pertama kali di Indonesia tepatnya di Solo, Jawa Tengah, masyarakat terlanjur mengenalnya sebagai "virus Singapura".
"Di Yogyakarta, virus ini ditemukan pertama kali pada Mei 2001 di Kecamatan Depok, Sleman dan sepanjang tahun itu tercatat 42 penderita. Setelah itu, setiap tahun penyakit ini dipastikan menyerang meskipun tidak pada taraf mengkhawatirkan," katanya.
Pernah terjadi di Hong Kong, lima dari sekitar lima ribu pasien PTKM memasuki status 'grade' V atau stadium paling membahayakan dengan ditandai pendarahan pada paru-paru yang bisa menyebabkan meninggal dunia. "Tetapi hingga tahun lalu, hal seperti itu tidak terjadi di Indonesia," tambahnya. "Untuk tindakan pencegahan diharapkan masyarakat menjaga kebersihan lingkungan dan mengonsumsi makanan bergizi," katanya. antara/abi
Sumber : http://www.republika.co.id/online_detail.asp?id=240198&kat_id=23

Tidak ada komentar:
Posting Komentar